Categories: Nasional

Prof Taruna Ikrar Ungkap Tantangan Kampus Indonesia di Era AI dan Silent Pandemic

PADANG — Di tengah percepatan perubahan global yang dipicu kecerdasan buatan, disrupsi teknologi, krisis iklim, serta ancaman silent pandemic, perguruan tinggi dituntut tidak lagi hanya menjadi pusat pengajaran dan penelitian.

Kampus perlu bertransformasi menjadi ruang lahirnya inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, dalam kuliah umum bertajuk From Campus to Society: Innovation and Creativity for a World Class University di Universitas Andalas, Padang, Jumat (6/2/2026).

Di hadapan mahasiswa dan dosen, Prof. Taruna menekankan bahwa konsep world class university tidak boleh dipahami semata sebagai persoalan peringkat internasional.

Menurutnya, universitas kelas dunia lahir dari keberanian berpikir berbeda, kebebasan akademik, serta kemampuan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Taruna menyinggung sejumlah universitas ternama dunia, seperti Harvard University, sebagai contoh lingkungan akademik yang mendorong kreativitas dan pemikiran lintas disiplin.

Bagi Prof. Taruna, kemajuan kampus tidak hanya ditentukan oleh fasilitas, tetapi terutama oleh budaya berpikir terbuka dan keberanian mengambil risiko dalam dunia ilmu pengetahuan.

Dalam suasana yang hangat, Prof. Taruna berbagi pengalaman pribadinya saat pertama kali menempuh pendidikan di Universitas Niigata, Jepang.

Ia menceritakan proses beradaptasi dengan lingkungan baru, menghadapi musim salju, serta mempelajari bahasa Jepang dari nol.

Pengalaman tersebut, menurutnya, membentuk ketangguhan mental dan keberanian keluar dari zona nyaman.

Ia menegaskan bahwa tekanan justru dapat menjadi sumber kekuatan. Semakin besar tantangan yang dihadapi, semakin besar pula potensi energi untuk tumbuh dan melangkah lebih tinggi.

“Mimpi adalah sumber energi. Tanpa mimpi besar, tidak ada dorongan untuk melampaui keterbatasan,” ujarnya.

Pesan reflektif tersebut berangkat dari tantangan global yang semakin kompleks.

Prof. Taruna menyebut dunia kini memasuki era Society 5.0, ketika kecerdasan buatan, teknologi digital, dan ilmu pengetahuan terhubung langsung dengan kehidupan manusia.

Sejak awal 2000-an, ia telah menaruh perhatian pada perkembangan kecerdasan buatan, khususnya dalam kaitannya dengan neurosains.

Perkembangan ilmu pengetahuan, menurutnya, membuka berbagai kemungkinan baru, termasuk peningkatan kualitas dan usia hidup manusia di masa depan. Namun, kemajuan tersebut berjalan beriringan dengan risiko global, mulai dari pandemi, silent pandemic, hingga dampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Pandemi Covid-19 disebutnya sebagai titik balik besar yang memaksa dunia, termasuk kampus, untuk beradaptasi secara cepat. Dari krisis tersebut, banyak inovasi lahir dalam waktu singkat.

Namun, di balik pandemi yang tampak, dunia juga menghadapi ancaman kesehatan global yang berkembang perlahan dan menelan korban dalam jumlah besar.

Tantangan lain datang dari perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Mikroplastik, menurut Prof. Taruna, kini telah ditemukan masuk ke dalam tubuh manusia, bahkan ke aliran darah.

Fakta tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi harus selalu berpihak pada keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan.

Dalam konteks tersebut, Prof. Taruna menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai ruang aman untuk berpikir dan berpendapat.

Ia mengingatkan bahwa gagasan besar kerap lahir dari keberanian melawan arus, seraya menyinggung kisah penemu alat pacu jantung yang sempat mengalami penolakan serius di lingkungan akademik.Ia juga menyinggung bahwa hingga kini Indonesia belum memiliki peraih Hadiah Nobel.

Namun, ia mengingatkan bahwa program pemerataan pendidikan dasar melalui SD Inpres di masa lalu justru menginspirasi negara lain yang kemudian berhasil melahirkan ilmuwan peraih Nobel.

Menurutnya, Indonesia tidak kekurangan potensi, tetapi masih membutuhkan keberanian bermimpi besar dan membangun ekosistem ilmu pengetahuan secara konsisten.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Prof. Taruna menempatkan kolaborasi Akademisi Bisnis dan Pemerintah sebagai kunci percepatan inovasi. BPOM, kata dia, berupaya menjadi penghubung antara riset kampus dan kebutuhan masyarakat serta industri.

Hingga Januari 2026, BPOM telah menjalin 180 kerja sama dengan perguruan tinggi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari 900 mahasiswa terlibat sebagai fasilitator dalam berbagai program pendampingan dan magang.

Selain itu, BPOM menyiapkan berbagai skema fasilitasi, mulai dari konsultasi regulasi, standardisasi bahan baku, pendampingan uji pra-klinik dan klinik, hingga pertemuan antara peneliti dan pelaku usaha.

Dalam periode 2021–2025, BPOM mendukung 115 riset berbasis bahan alam yang terdiri atas 24 studi klinik dan 91 studi pra-klinik. Sejumlah bahan baku pangan dan kosmetik juga berhasil distandardisasi guna memperkuat fondasi inovasi nasional.
Pencapaian penting lainnya adalah keberhasilan BPOM meraih status WHO Listed Authority, menjadikan Indonesia sebagai negara berkembang pertama yang memperoleh pengakuan tersebut dan menempatkan BPOM sebagai otoritas rujukan internasional dalam pengawasan obat dan makanan.Kuliah umum ini turut dihadiri para pimpinan perguruan tinggi di Sumatera Barat sebagai wujud komitmen bersama dalam mendorong transformasi pendidikan tinggi. Hadir dalam kesempatan tersebut Rektor Universitas Negeri Padang, Direktur Politeknik Negeri Padang, Rektor Universitas Baiturrahmah, Rektor Universitas Dharmas Indonesia, Rektor Universitas Bung Hatta, Rektor Universitas Ekasakti, Rektor Universitas Perintis Indonesia, Rektor Universitas Sumatera Barat, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, serta Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Padang.

Kehadiran para pimpinan perguruan tinggi lintas disiplin tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi antarkampus dalam membangun ekosistem riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat yang terintegrasi, sekaligus memperkuat posisi Sumatera Barat sebagai salah satu simpul pengembangan pendidikan tinggi dan inovasi nasional.

Menutup kuliah umumnya, Prof. Taruna menegaskan bahwa transformasi harus dimulai dari diri sendiri. Kampus, menurutnya, hanya akan berubah jika orang-orang di dalamnya berani berubah. Riset mahasiswa, tugas akhir, dan proyek akademik perlu diarahkan menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dari kampus ke masyarakat, dari Padang untuk dunia, Universitas Andalas diharapkan mampu menjadi bagian penting dalam melahirkan inovasi yang berintegritas, berdaya saing, dan berpihak pada masa depan. (**)

Wahana Infota

Recent Posts

  • Nasional

Edukasi Gemar Memasyarakatkan Ikan, Mahasiswa Budidaya Perairan Unhas Gelar Penyuluhan di SDN 119 Barru dan SDN 117 Barru Desa Lawallu, Kec. Soppeng Riaja

BARRU – Mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Sucianti Lestari, melaksanakan program kerja GEMARI…

3 minggu ago
  • Nasional

Mahasiswa KKN Unhas Edukasi Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui Gerakan PSN 3M Plus di Rumah Warga Desa Lawallu

WAHANA INFOTA, MAKASSAR - Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN)…

4 minggu ago
  • Nasional

Edukasi Risiko Jatuh pada Lansia, Mahasiswa Fisioterapi Unhas Gelar Penyuluhan di Desa Lawallu, Kec. Soppeng Riaja

BARRU – Mahasiswa Program Studi Fisioterapi, Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin, Marseila Abigael Pasorong, melaksanakan program kerja dengan tema LANGKAH (Lansia…

1 bulan ago
  • Nasional

Mahasiswa KKN-PK 69 Universitas Hasanuddin Gelar Edukasi “SIAGA STUNTING” untuk Perkuat Pencegahan Stunting Sejak Masa Kehamilan di Desa Lawallu

Barru – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Angkatan 69 Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja individu bertajuk "SIAGA STUNTING: Sinergi…

1 bulan ago
  • Nasional

Taruna Ikrar Bertemu Dudung Abdurachman, BPOM Perkuat Perlindungan Masyarakat dan Daya Saing Industri Nasional

JAKARTA - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., menggelar pembicaraan strategis dengan…

1 bulan ago
  • MAKASSAR TA'
  • Nasional

PerBPOM No5/2026 Perkuat Pemerataan Akses Obat Aman dan Bermutu di Indonesia

JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus memperkuat pembangunan ekosistem self-care atau swamedikasi yang aman, cerdas, dan bertanggung…

3 bulan ago