Categories: MAKASSAR TA'

Pengelolaan Sampah Organik Dengan (Ulat) Magot

WAHANA INFOTA – Berbagai upaya dalam mengelola sampah di Kota Makassar sudah dilakukan dengan baik. Meski demikian, upaya pengelolaan sampah seperti bank sampah, biodigister, dan komposter aerob belum mampu mereduksi sampah yang lebih besar dari potensi sampah yang dihasilkan penduduk kota Makassar.

Bank Sampah selama ini menjadi andalan pemerintah kota Makassar karena setiap hari mampu mereduksi 30 ton sampah anorganik seperti plastik, kertas, logam dan botol kaca. Jumlah tersebut baru sekitar 0.3 persen dari jumlah sampah yang dihasilkan.

Sementara itu, khusus untuk pengolahan sampah organik memang belum maksimal karena pengomposan organik masih terbatas di lakukan per rumah tangga dengan komposter aerob. Kemudian teknologi sampah organik menjadi gas baru dikembangkan di 3 lokasi yakni di bank sampah adipura kecamatan Panakukang, bank sampah sukses abadi di kecamatan makassar dan bank sampah Mekar Swadaya di kecamatan Manggala.

Sampah yang bisa terkelola per hari pun baru ditingkat rumah tangga dengan reduksi sampah organik 5 kg per hari. Walikota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto pun sudah menginstruksikan ke kadis Lingkungan Hidup kota Makassar, Rusmayani Majid agar tahun 2019 ini mengadakan 100 biodigister.

Ketua Yayasan Peduli Negeri, Saharuddin Ridwan menanggapi hal ini mengaku harus ada upaya sistematis dan terukur dalam pengelolaan sampah organik. Saat ini akunya, lembaganya sementara mengembangkan teknologi sederhana dalam mengolah sampah dengan ulat dengan nama magot.

“Magot memang belum dikenal secara luas. Bahkan, magot lebih di pahami masyarakat awam sebagai belatung yang menjijikan serta sumber penyakit. Padahal, magot mempunyai banyak manfaat, salah satunya mengatasi masalah sampah yang bisa menambah nilai ekonomis,” ujar mantan wartawan televisi nasional ini.

Menurutnya, magot berbeda dengan belatung. Magot merupakan larva serangga Hermetia illucens atau lebih dikenal dengan Black Soldier Fly (BSF). Sementara yang lajim dikenal sebagai belatung atau dalam Bahasa inggris maggot, merupakan larva serangga Diptera (Haasbroek,2016).

Belatung untuk sebutan larva housefly atau lalat rumah berperan sebagai vector penyakit sebaliknya, magot sebagai agen perombak atau kompos material organik dalam waktu singkat dapat meningkatkan kesuburan dengan belatung.

Meskipun di Indonesia magot belum di optimalkan dalam skala industri ataupun untuk pengelolaan sampah, namun di luar negeri menurut Sahar yang pernah meninjau lokasi pengembangbiakan dan industri magot di Korea Selatan, magot ini menjadi teknologi sederhana namun mampu mereduksi sampah makanan lebih cepat.
“Di Korea saya ke tempat pengembangbiakan magot nama perusahaannya entomo. Dan alhamdulillah saat ini entomo, green technologi center korea kerjasama pemkot Makassar dan biomag Indonesia sementara melakukan pengembangan program ini,” ungkap Sahar.

Saat ini lanjutnya, di kantor yayasan peduli negeri sementara mengembangkan magot. Andi Nurdianzah, manager lingkungan YPN, menyatakan upaya kembang biak magot diawali melalui larva atau telur lalat BSF (black soldier fly). Kemudian larva tersebut menjadi ulat dan ulat inilah yang akan mengolah makanan menjadi pupuk. Bahkan magot atau ulat itu bisa langsung dikonsumsi menjadi pakan ternak, ikan dan ayam.

“Di kantor kami, juga tersedia kolam ikan lele untuk melihat perkembangan ikan ketika mengkonsumsi magot. Kita coba juga ke ayam dan burung,” kata Anca.

Wahana Infota

Recent Posts

  • Nasional

Edukasi Gemar Memasyarakatkan Ikan, Mahasiswa Budidaya Perairan Unhas Gelar Penyuluhan di SDN 119 Barru dan SDN 117 Barru Desa Lawallu, Kec. Soppeng Riaja

BARRU – Mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Sucianti Lestari, melaksanakan program kerja GEMARI…

1 bulan ago
  • Nasional

Mahasiswa KKN Unhas Edukasi Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui Gerakan PSN 3M Plus di Rumah Warga Desa Lawallu

WAHANA INFOTA, MAKASSAR - Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN)…

1 bulan ago
  • Nasional

Edukasi Risiko Jatuh pada Lansia, Mahasiswa Fisioterapi Unhas Gelar Penyuluhan di Desa Lawallu, Kec. Soppeng Riaja

BARRU – Mahasiswa Program Studi Fisioterapi, Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin, Marseila Abigael Pasorong, melaksanakan program kerja dengan tema LANGKAH (Lansia…

2 bulan ago
  • Nasional

Mahasiswa KKN-PK 69 Universitas Hasanuddin Gelar Edukasi “SIAGA STUNTING” untuk Perkuat Pencegahan Stunting Sejak Masa Kehamilan di Desa Lawallu

Barru – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Angkatan 69 Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja individu bertajuk "SIAGA STUNTING: Sinergi…

2 bulan ago
  • Nasional

Taruna Ikrar Bertemu Dudung Abdurachman, BPOM Perkuat Perlindungan Masyarakat dan Daya Saing Industri Nasional

JAKARTA - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., menggelar pembicaraan strategis dengan…

2 bulan ago
  • MAKASSAR TA'
  • Nasional

PerBPOM No5/2026 Perkuat Pemerataan Akses Obat Aman dan Bermutu di Indonesia

JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus memperkuat pembangunan ekosistem self-care atau swamedikasi yang aman, cerdas, dan bertanggung…

3 bulan ago