oleh

Melawan Hoax Dengan Budaya Membaca

WAHANA INFOTA – Era digital membawa warna baru dalam ruang peradaban modern kini. Kemajuan luar biasa yang begitu pesat pada segala jenis teknologi digital kemudian menghadirkan ruang informasi yang cukup luas, kepada khalayak penggunanya untuk menikmati setiap informasi yang tersaji.

Pada realitas hari ini, penikmat dunia digital bisa dikatakan “dipaksa” untuk menjadi seorang pembaca informasi. Hal ini dikarenakan akses informasi yang kian meluas. Media sosial, yang pada awalnya hanya menjadi sarana silaturahim, sekaligus tempat melepas (mempublikasikan) hal-hal yang bersifat pribadi, kini telah bermetamorfosa menjadi arena pertarungan informasi.

Segala jenis informasi bisa berjelajah dengan cukup cepat, kemudian menarik setiap pasang mata untuk membacanya. Dalam perkondisian yang seperti inilah, Hoax kemudian mendapatkan ruangnya. Secara signifikan tingkat pembaca “berita hoax” mengalami peningkatan.

Keterpaksaan “membaca” setiap informasi yang terlanjur membanjiri lini masa, tidaklah menjadi bagian dari apa yang dinamakan budaya membaca. Budaya membaca seharusnya tumbuh dari kesadaran diri sendiri, kemauan untuk menelusuri setiap informasi secara jelas dan akurat. Mencari ilmu serta manfaat yang berguna dari setiap bacaan yang terpampang di depan mata.

Sadar akan problema ini, Ikatan Wartawan Online (IWO) Sulawesi Selatan kemudian mengambil peran, menjadi garda terdepan dalam memerangi setiap berita Hoax. Sebagai pewarta di tengah arus informasi era digital, IWO Sulsel hadir dengan prinsip anti hoax.

“Kabar bohong adalah musuh kami” Tegas ketua IWO Sulsel, Zulkifli Thahir, seraya memperkenalkan tagline #IWOSulselAntiHoax

Zulkifli Tahir (Ketua IWO Sulsel)

Dalam pandangannya, Zulkifli Thahir, menegaskan dalam posisinya sebagai pewarta, sudah seharusnya IWO Sulsel memberikan informasi yang kebenarannya akurat, dan tidak memberikan ruang pada pemberitaan-pemberitaan hoax.

Di samping itu, budaya membaca khususnya di kalangan para pembaca millenial harus terus ditingkatkan. Rendahnya budaya membaca adalah ruang yang cukup luas untuk menjadi tempat tumbuhnya hoax. Tanpa adanya keinginanan untuk mencari kebenaran informasi secara menyeluruh, amat sangat riskan si pembaca akan termakan informasi hoax.

Melintasi era digital ke depan, dengan laju informasi yang kian cepat, budaya membaca benar-benar harus terbangun. Menelisik segala informasi secara jelas dan akurat. (*SN)

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

News Feed