WAHANA INFOTA – Tak ada penerangan dalam rumah, cahaya lampu yang biasanya datang dari sinaran lampu minyak itu tak lagi menerangi. Jangankan untuk membeli bahan bakar lampu tersebut, bahkan untuk makan sehari-hari saja, sang kakek ini harus bergelut menahan rasa laparnya.
Cenren, usia 100 tahun, sebagaimana dilansir dari Suara Jelata hidup sebatang kara di Dusun Kampala, Desa Turungan Baji, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan.
Menghabiskan kesehariannya seorang diri, di gubuk berukuran 3×3 meter dengan fasilitas pendukung yang amat sangat nihil, gubuk tersebut berjarak sekitar 1 km dari pemukiman warga. Uluran tangan warga setempat adalah harapan bagi sang kakek, terkadang ada warga yang mendatangi dengan membawakan bekal makanan untuk ia konsumsi, namun, bila tak ada warga yang datang dalam sehari, maka hari itupun, sang kakek harus berjuang menahan rasa laparnya.
” Kalenkuja ana ammari kanre, tena toon lampungku sulo kupake tapi tenamo minnyakna jari tenamo kussulo, anakku rieki rimankasara ammari, nakke labbima ruan taun ammari kanre kale-kalenhku (Sendiri nak tinggal disini, tidak ada juga lampu listrik, lampu minyak saya pake tapi minyaknya sudah habis jadi tidak pakai lagi lampu, anak saya tinggal di Makassar lebih dua tahun tinggal sendiri disini),” tuturnya.
Kakek Di Sinjai Tinggal Sendiri Di Gubuk, Sang Anak : Sudah Diajak Berkali-Kali, Tapi Selalu Menolak Pindah Dari Situ
Dia mengaku sempat mendapatkan bantuan sembako, namun kini dirinya hanya bisa berharap.
“Main ja nak nasere pammarentaia bantuan berasa sambako, rioloa mallingmi nak kamuana nne tenamo, (Pernah nak dulu di berikan bantuan raskin sekarang tidak lagi), ” Terangnya.
Salah satu warga Ali, membenarkan jika Cenren tinggal sendiri dirumahnya sudah lama. ” Ia sendiri itu tinggal di rumahnya kasian, sudah lama tinggal sendiri karena anaknya jauh tinggalnya. Kami berharap pemerintah dapat memperhatikannya,” ungkapnya. (Sumber)













Leave a Reply