oleh

PKM 2025, Mahasiswa Farmasi Unhas Kembangkan Inovasi Tebas Skizofrenia

WAHANA INFOTA – Skizofrenia masih menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang kompleks dan memerlukan perhatian serius. Berdasarkan data WHO tahun 2022, terdapat lebih dari 24 juta penderita skizofrenia di dunia, dan sekitar 2,4 juta di antaranya meninggal akibat bunuh diri. Di Indonesia sendiri, kasus skizofrenia meningkat hingga 1,9 juta kasus pada tahun 2023.

Hingga saat ini, belum ada obat yang mampu menyembuhkan skizofrenia secara tuntas, namun penyakit ini dapat dikontrol dengan obat antipsikotik salah satunya yaitu risperidone sebagai lini pertama. Selama ini, risperidone diberikan secara oral atau long acting injection. Namun, kedua bentuk tersebut memiliki keterbatasan seperti frekuensi pemakaian yang tinggi, efek samping metabolik, serta kesulitan menembus sawar darah otak.

Sebagai solusi, tim mengembangkan sustained-release nanoparticle (SR-NP) berbasis kopolimer PEG-PCL yang diintegrasikan ke dalam separable nasal microneedle (SNMs). Sistem ini dirancang agar obat dilepaskan secara perlahan dan langsung menuju otak melalui rongga hidung, mengurangi frekuensi penggunaan hingga satu kali dalam tujuh hari, serta menurunkan risiko efek sistemik.

Berangkat dari permasalahan tersebut, tim mahasiswa Universitas Hasanuddin yang terdiri dari Christopher Kosasi (ketua-farmasi), serta anggota Nur Izzah Khairani (farmasi), Nun Salsabila Maddeppungeng (farmasi), Nur Annisa Rahman (kedokteran), dan Asqa Fikriyyah (biologi), di bawah bimbingan Prof. Andi Dian Permana, mengembangkan inovasi berjudul “Tebas Skizofrenia: Terobosan sistem nanocarrier sustained release nanoparticle terakselerasi separable nasal microneedle sebagai peningkat selektivitas penghantaran risperidone menuju otak.” Riset yang dilakukan ini juga merupakan sebuah penelitian yang dikompetisikan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) tahun 2025.

Penelitian dilakukan selama kurang lebih 4 bulan di Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin dengan dukungan fasilitas penelitian yang memadai serta pendampingan intensif dari dosen pembimbing. Proses penelitian ini meliputi tahapan persiapan bahan, pembuatan formula, pengujian awal, hingga analisis karakteristik fisik dan keamanan. Seluruh rangkaian kegiatan juga telah memperoleh persetujuan etik dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, yang menegaskan komitmen tim terhadap aspek keamanan dan etika penelitian.
Ketua tim, Christopher Kosasi, mengungkapkan bahwa ide penelitian ini berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi pasien skizofrenia yang kerap kali mengalami kesulitan dalam menjalani terapi.
“Kami ingin menghadirkan inovasi yang bukan hanya efektif dari sisi farmakologis, tetapi juga memberi kenyamanan dan harapan baru bagi pasien. Skizofrenia bukan akhir dari segalanya, dan melalui riset ini kami ingin menunjukkan bahwa kemajuan teknologi farmasi dapat membantu mereka menjalani hidup yang lebih baik,” ujarnya.

Salah satu anggota tim, Nur Annisa Rahman, menambahkan bahwa penelitian ini tidak hanya mengasah keterampilan ilmiah, tetapi juga membangun rasa empati terhadap penderita gangguan mental.
“Kami belajar bahwa di balik setiap penelitian, ada tujuan kemanusiaan yang lebih besar. Kami berharap inovasi ini bisa menjadi langkah awal menuju sistem terapi yang lebih manusiawi,” tuturnya.
Selain fokus pada aspek ilmiah, tim juga aktif mendokumentasikan kegiatan mereka melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram dan TikTok sebagai bentuk transparansi dan publikasi kegiatan riset. Dokumentasi tersebut tidak hanya menampilkan proses kerja di laboratorium, tetapi juga pesan edukatif kepada masyarakat tentang pentingnya memahami dan mendukung penderita gangguan mental.
Hingga saat ini, kegiatan penelitian telah mencapai tahap akhir dengan capaian luaran yang hampir sepenuhnya terpenuhi. Tim juga tengah mempersiapkan publikasi ilmiah serta penyusunan laporan akhir untuk diserahkan kepada pihak penyelenggara program. Ke depannya, mereka berencana untuk mengajukan perlindungan hak kekayaan intelektual atas inovasi yang dihasilkan.

Sejauh ini, tim riset belum menguji coba secara langsung sediaan tersebut kepada manusia karena masih dalam skala pengembangan di laboratorium. Diperlukan beberapa uji lanjutan dan uji keamanan untuk digunakan secara massal.

Perjalanan tim untuk melakukan riset tersebut tentunya tidak mudah, utamanya riset dilaksanakan ditengah-tengah jadwal perkuliahan yang padat. Segala bentuk keterbatasan dan kekurangan yang ada menjadi tantangan bagi tim untuk melaksanakan riset.

“Selama menjalankan riset, laboratorium sudah menjadi rumah kedua bagi kami. Bahkan kami kadang menginap hingga pagi di lab.” tutur Christopher Kosasi, Ko
Inovasi yang dikembangkan ini menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki potensi besar dalam memajukan ilmu pengetahuan dan kesehatan mental di Indonesia. Melalui riset ini, kami harap tidak hanya berkontribusi dalam bidang farmasi, tetapi juga membawa pesan sosial yang kuat tentang pentingnya menghapus stigma terhadap penderita gangguan jiwa.

Akhir kata, tim berharap penelitian ini dapat dilanjutkan ke tahap yang lebih aplikatif, hingga suatu saat dapat diimplementasikan secara luas dalam dunia medis.

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

News Feed