oleh

IGI Maluku Aktif Edukasi Guru Untuk Melek Digital

WAHANA INFOTA — Orientasi pembelajaran abad 21, sebagaimana tuntutan zaman, tidak bisa lagi ditunda, semangat Ikatan Guru Indonesia (IGI) sebagai organisasi profesi guru yang fokus pada peningkatan mutu guru, untuk terus membangun kompetensi literasi digital guru yang tertinggal terus dilakukan.

Berbagai program peningkatan mutu guru berupa diklat, workshop, seminar dalam berbagai kegiatan tatap muka maupun daring (dalam jaringan), terjadwal dalam agenda nasional maupun daerah.

Setidaknya ada 101 kanal pelatihan terkini Guru yang terus-menerus melakukan pelatihan mandiri berbasis literasi digital dengan berbagai menu pelatihan sesuai kebutuhan terkini, terus-menerus dibuka secara daring maupun tatap muka.

Kanal-kanal pelatihan ini bisa diakses pada laman guru pembelajar IGI dengan terlebih dahulu mendaftar sebagai member IGI secara daring, atau luring, agar bisa mengakses berbagai menu pelatihan spektakuler IGI.

Di beberapa kesempatan terkadang IGI harus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi pelatihan modern, agar bisa terjangkau dan bisa diakses dan dirasakan manfaatnya oleh para guru yang mengikutinya. Maka jangan heran terkadang ada berbagai logo iklan atau sponsorship dalam berbagai kegiatan IGI di tingkat nasional dan lokal.

Hal ini dikarenakan IGI tidak dibiayai APBN dan APBD, tetapi dengan mandiri menjadi organisasi modern dan terbuka bekerjasama dengan pihak manapun dengan siapapun yang mendukung program peningkatan mutu guru. Sedikit mengadopsi sistem boardcasting pertelevisian untuk membangun kemitraan dengan berbagai sponsorship dan NGO, sehingga merekalah yang akan membiayai berbagai program IGI.

Memang benar beberapa pelatihan IGI terkadang harus mandiri dan berbiaya dikarenakan harus bisa memfasilitasi secara mandiri transportasi pemateri, sewa gedung dan perlengkapan acara, sudah bukan barang yang baru. Yang menjadi aneh jika ada yang berharap dalam pelatihan IGI pesertanya akan mendapat donasi atau uang transport. Sebab IGI bukan lembaga keuangan yang memiliki saham di pasar modal, atau lembaga yayasan sosial, sehingga mampu membagi-bagikan duit gratis bagi pesertanya. Maka tidak menjadi aneh dalam berbagai te

Yang IGI lakukan adalah membagi-bagikan ilmu pengetahuan, teknologi, seni secara gratis bahkan tak ternilai dengan harta atau materi. Terbukti dari berbagai pelatihan gratis terakses dalam sistim informasi IGI secara Nasional sudah lebih 1,6 juta guru se Indonesia, terdaftar, detil dan terabsensi. Dan di Maluku sendiri dalam 2 tahun terakhir sejak dimunculkannya kanal pelatihan Guru di Maluku, telah melatih lebih dari 5.000 guru, secara gratis tanpa bantuan APBN dan APBD.

Hal ini tidak mungkin bisa dilakukan, oleh pemda, LPMP atau dinas pendidikan sekalipun, oleh karenanya kehadiran IGI di 34 provinsi termasuk di Maluku, bukan seperti organisasi sosial, dengan berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan guru, tapi lebih kepada sharing and growing together (berbagai ipteks dan tumbuh berkembang bersama).

Komitmen ini dikarenakan IGI sepenuhnya ingin membantu pemerintah lebih termasuk pemprov Maluku dan 11 kab. Kota se Maluku, untuk membangun mutu dan kualitas guru berbasis literasi digital, karena sebesar apapun anggaran pendidikan, tanpa bantuan berbagai pihak pendidikan tidak akan berkembang dan maju.

Dan bahwa tugas tanggung jawab organisasi guru sebagaimana amanah UU Guru dan Dosen, pasal 41, adalah melakukan pembinaan berkelanjutan, bukan menjadikan guru sebagai objek yang harus diperalat dengan berbagai kepentingan seperti tempat menagih upeti dan tidak diberdayakan. Karena hingga kini ditemukan berbagai organisasi guru jadi-jadian yang selalu menagih upeti semacam iuran, tetapi gurunya tidak fasilitasi dengan pendalaman keilmuan praktis berkelanjutan.

Organisasi guru sejatinya berkontribusi bagi guru, dan guru wajib menjadi anggota organisasi guru, sesuai minat dan pengembangan keahliannya bukan sesuai atasannya.

Sebaliknya juga tugas organisasi guru hadir membantu pemerintah dan pemda dengan tidak membebani, termasuk beban anggaran.

*****
Semangat inilah sehingga IGI Maluku, terus menerus memprovokasi dan mempelopori pembelajaran abad 21, sehingga menjadi acuan bagi guru sekaligus mengushakan cetakbiru guru bermutu yang digugu dan ditiru oleh kebanyakan guru dan imbasnya ke peserta didik.

Di awal deklarasi IGI Maluku, 2106 di LPMP Maluku, banyak yang tidak menyangka IGI Maluku tumbuh secara persisten, karna harus berupaya maksim mengubah mindset guru untuk berlatih mengasah kompetensinya.

Hingga saat ini IGI Maluku, beranggota aktif 1500 guru muda kreatif mandiri dan kaya akan inovasi, hanya sekitar 0.5% dari jumlah total guru Maluku

Karena terbukti IGI Maluku kini, perlahan telah melahirkan guru penggerak, produktif dengan berbagai karya guru digunakan secara Nasional, bahkan telah meraih prestasi guru di tingkat Nasional, dan kini sedang berkeliling dari kota ambon, hingga ke kabupaten terluar Maluku mencari bakat-bakat terpendam guru Maluku yang nemiliki jiwa dan semangat menaikan kualitas guru Maluku.

Termasuk lebih spesifik mengenalkan langsung Teknologi Pembelajaran Abad 21, kepada para Guru di Maluku, bahkan sampai dengan mendatangi 4 Kabupaten kota, di Maluku, mulai kota Ambon, Bula (SBT), Piru (SBB), Masohi, (Maluku Tengah) dan kabupaten Buru dan Buru Selatan. (Sumber : Nusatama)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

News Feed