oleh

Fenomena La Nina, Rupanya Punya Dampak positif pada Surplus Perairan Indonesia

WAHANA INFOTA — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) meminta agar masyarakat bersiap dan mengambil manfaat terhadap adanya gangguan anomali fenomena La Nina di Indonesia pada periode musim tahun 2021 ini.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, kuartal akhir tahun 2020 hingga awal 2021, kondisi iklim global dihadapkan pada gangguan anomali berupa fenomena La Nina dengan level intensitas mencapai moderate di Samudera Pasifik ekuator.

Dijelaskan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati bahwa fenomena La Nina telah lama diketahui memiliki dampak yang bersifat global.

Secara garis besar, ada dua dampak La Nina ini yaitu penurunan dan peningkatan curah hujan di berbagai wilayah.

Sementara itu, sebagai bagian dari variabilitas sistem iklim global, La Nina dan El Nino terjadi berulang dan memiliki siklus 2-8 tahun.

Dwikorita mengatakan, La Nina terakhir pada 2010, di mana untuk wilayah Indonesia dikenal sebagai tahun basah karena hampir terkesan tidak ada kemarau sepanjang tahun akibat curah hujan yang berlebih.

“La Nina lebih dipandang sisi negatifnya saja yang berdampak pada bencana hidrometeorologi,” kata Dwikorita dalam diskusi bertajuk La Nina: Manfaatkan Air Hujan Berlimpah untuk Kesejahteraan dan Pengurangan Risiko Bencana Hidrometeorologi, Selasa (29/12/2020).

Padahal, dalam enam kali La Nina dalam periode 30 tahun terakhir, telah terjadi surplus air tanah tahunan di Waeapo-Pulau Buru sebesar 755 mm atau setara dengan 222 persen dari kondisi normalnya.

Oleh karena itu, sebenarnya kata Dwikorita, hal tersebut mengindikasikan, fenomena La Nina selain memiliki sisi ancaman, ternyata juga punya peluang positif yang dapat dimanfaatkan. (**/Kompas)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

News Feed