WAHANA INFOTA – Perbuatan Paijo (52) tidak bisa diterima nalar. Demi memuaskan nafsu bejatnya, dia tak segan-segan menggauli anak kandung sendiri. Dua anak kandungnya. Bahkan, tak jarang dia lakukan di depan sang istri. Tindakan inses itu telah dia lakoni sejak 2012, tidak lama setelah keluarga kecilnya pindah ke Samarinda.
Tindakan asusila Paijo terbongkar setelah sang anak tertua, sebut saja Andini (18), melarikan diri dari rumah. “Dia (Andini) bahkan sempat dikejar-kejar sama pelaku, tapi lolos dan sembunyi,” ujar Kapolsek Palaran Kompol Raden Sigit Satrio Hutomo, kemarin (5/5).
Dalam pelarian, Andini diselamatkan seseorang. “Ada orang yang temui saya saat memantau penghitungan suara pemilu, orang itu yang cerita semua,” sambung Sigit. Polisi pun bertindak dengan membawa Andini ke rumah aman, di Samarinda Utara.
Sementara itu, Paijo, sebelum ditetapkan tersangka, sempat bertandang ke polsek, Jumat (3/5). Dia datang untuk melapor bahwa anaknya hilang. “Kami sebenarnya sudah terima laporan, karena belum gelar perkara makanya tidak langsung kami tahan,” sambung Sigit.
Untuk mengungkap perbuatan keji Paijo, polisi memeriksa pelaku dan korban secara terpisah. Mencocokkan keterangan. Andini sempat mempraktikkan perbuatan ayah kandungnya kepada penyidik polisi wanita (polwan). “Tangannya diikat dan mulutnya ditutup kain, dan itu disaksikan istri pelaku,” tambah eks kapolsek Samarinda Ulu itu. Perbuatan tak senonoh itu dia rasakan sejak berusia 11 tahun.
Korban sempat dicekoki pil khusus oleh sang ibu. Itu adalah suruhan Paijo. “Istrinya memang tahu, tapi kondisinya di bawah tekanan suami,” ungkap Sigit. Jadi, dalam kasus ini, ibu korban tidak dilibatkan dalam perkaranya. Istri diminta tak buka mulut kepada tetangga.
Pelaku mengakui perbuatan itu dilakukan di kediamannya, Jalan Rambutan, RT 46, Bukuan, Palaran. Selain Andini, adik kandungnya, sebut saja Andina (16), mendapat perlakuan serupa. Bedanya, sang adik sudah menikah. Dalam sepekan, Paijo menggerayangi seorang anaknya hingga tiga kali. “Karena korbannya dua, kemungkinan setiap hari melakukan itu,” tegas Sigit.
Ditanya tentang perbuatannya oleh awak media, Paijo melantur. “Ada orang yang enggak suka sama saya, anak saya dibawa kabur,” akunya. Namun, dia tak bisa menampik perbuatan keji itu. “Ya, benar. Saya sangat menyesal,” ucapnya dengan wajah tertunduk. Bahkan, sebelum ditetapkan tersangka, pria dengan rambut ditumbuhi uban di sebagian kepalanya itu mengelak dan tak mengakui perbuatannya.
Pria yang kesehariannya kerja sebagai buruh di salah satu pabrik di kawasan Palaran itu menjelaskan, semua keterangan yang dilaporkan korban tak benar. Dia mengaku sedang tak sadar saat berbuat. “Enggak ada dari 2012, baru-baru saja,” sebutnya. “Terserah pengakuannya seperti apa, yang jelas semuanya diakui,” timpal Sigit. (Sumber)
Mungkin, sering tak kita sadari, kata 'Pulang' kerap mereduksi kelelahan kita di tengah aktifitas keseharian, seolah mengirimkan pesan, ada ketenangan…
WAHANA INFOTA, MAKASSAR - Sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan generasi muda, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan 78 Universitas…
WAHANA INFOTA, MAKASSAR - Pelaksanaan program donor darah yang digalakkan oleh Komunitas Passapeda (KOMPAS) Biringkanaya, akan kembali diadakan pada bulan…
WAHANAINFOTA, - secara resmi menutup rangkaian kegiatan Upgrading Pengurus Harian LPM Penalaran UNM Periode 2025/2026 pada Ahad, 12 April 2026,…
MAKASSAR, - Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali menyelenggarakan kegiatan Upgrading Pengurus Harian LPM Penalaran UNM Periode…
WAHANA INFOTA, MAKASSAR - Walikota Makassar, Munafri Arifuddin menerima kunjungan Duta Besar Finlandia untuk Indonesia, Pekka Kaihilahti di Balai Kota…