oleh

Opini Warga : F8 Hilang? Jangki Kasi Mundur Makassar Kodong…

F8 Makassar Membuat Makassar Mendunia.

Opini oleh : Irwan A N (Warga Biringkanaya).

Seberapa besar pergelaran Piala Dunia bisa memikat perhatian anda? Memaksa anda begadang hingga larut demi menyaksikan pertandingan-pertandingan negara luar. Bahkan di 2014 Indonesia diberitakan sebagai negara pemilik suporter piala dunia terheboh di medsos. Padahal kita tahu negara ini tak ikut sebagai peserta. Demikianlah adanya, Pergelaran Piala Dunia Sepakbola menjadi sebuah magnet perhatian seluruh dunia di setiap 4 tahunnya.

Di 1930, terinspirasi dari suksesnya pergelaran Olimpiade cabang Sepakbola, Jules Rimet yang tak lain adalah Presiden FIFA kala itu kemudian menjadi penggerak lahirnya Piala Dunia yang pertama. Pergelaran piala dunia kali pertama, rupanya tak semulus pergelaran saat ini. Ada banyak problema yang dihadapi, salah satunya ialah bagaimana setiap negara (Peserta Piala Dunia) ini akan menempuh perjalanan panjang menuju Uruguai, kemudian banyak klub-klub yang tak bersedia melepas pemain terbaiknya. Alhasil, Piala Dunia pertama hanya diikuti Tiga belas tim (tujuh dari Amerika Selatan, empat dari Eropa, dan dua dari Amerika Utara) dan hanya di gelar di 3 kota.

Begitulah, seiring waktu Piala Dunia digelar secara berkesinambungan setiap 4 tahunnya. FIFA menyambut baik animo masyarakat dengan meningkatkan kualitas Pergelaran ini dari waktu ke waktu. Membentuk regulasi yang mencakup perihal keikut sertaan para peserta, pemilihan tuan rumah, mekanisme pertandingan, kualitas stadion dan segala macamnya. Kesemuanya, membutuhkan waktu yang tidak singkat, serta konsistensi, pemahaman yang baik yang bermuara : Pada sebuah kesinambungan. Piala Dunia menjadi pergelaran akbar yang tiada tertandingi saat ini, bagaimana kemudian Pergelaran ini tak hanya menjadi tontonan sepakbola semata. Piala dunia kerap menjadi momentum pariwisata para turis di sebuah negara dimana pergelaran ini dilangsungkan.

Mari berbicara tentang pergelaran, karena jika kita berbicara tentang sepakbola dalam konteks “Internasional” fakta menunjukkan, hingga saat ini, kita tak menemukan jejak-jejak prestasi dari persepakbolaan kita yang membuat orang luar kemudian tertarik memandang kita.

Lalu bagaimana menarik pandangan orang luar? tentunya langsung saja tunjukkan apa yang kita punya. Tak perlu menunggu kita hadir di piala dunia dulu.

Tunjukkan semua potensi kreatif ( Fashion, Food, Fiction Writers & Fonts, Fine Art, Folks, Fusion Music, Flora & Fauna, dan Film) yang berakar kuat pada tradisi serta budaya lokal. Sejatinya inilah yang kelak akan melahirkan perhatian dari orang-orang luar sana.

Di Makassar, pijakan awal ke situ sudah terbangun. Tanpa melalui tahapan kualifikasi, play off dan segala jenisnya itu, Makassar International EIGHT Festival Makassar (F8) sejak awal telah menapakkan jejaknya di tengah dunia internasional. Menarik pandangan mata dari setiap belahan negara lain. Bisa anda bayangkan, dalam satu jejak waktu ke depan, “Burongko is Delicious Dessert” kemudian menggema menjadi tajuk utama di majalah ternama dunia. Atau bayangkan saja, bagiamana sapaan “aga kareba bosku’ ” ini kemudian akrab terdengar di telinga orang-orang hingga ke sudut benua sana. Demikianlah, kekuatan dari sebuah pergelaran. Lihat saja kemudian bagaimana Piala Dunia bisa mempopulerkan boneka Zabivaka ke seluruh penjuru dunia setahun silam. Apa istimewanya boneka ini? Tak ada. Sama saja dengan boneka yang lain. Kebetulan saja, ia menjadi maskot pergelaran yang begitu besar. Bagaimana Tarian khas afrika membius jutaan pasang mata, kala membuka pergelaran Piala Dunia 2010 silam. Bagiamana lagu demi lagu soundtrack PD menjadi booming, hits seketika. Itulah kekuatan sebuah pergelaran. Pertanyaannya, kapan Indonesia bisa hadir di situ? ikut mempolerkan apa yang kita punya? Menunggu kita jadi tuan rumah Piala Dunia dulu? Kapan itu? Lalu setelah itu?

Olehnya itu, pertanyaan klasik ini sejatinya telah terpecahkan sejak 3 tahun silam. Oleh Inovasi dari Walikota Makassar kala itu, M Ramdhan Danny Pomanto. Bila tak mampu meraih perhatian dari pergelaran yang terlanjur akbar, buatlah sebuah pergerlaran — Jadilah tuan rumah di kota sendiri — mengambil peranan di negeri sendiri — di pandang dunia. Menjadi kota yang dikenal oleh dunia. Dan, ini terang saja membutuhkan waktu untuk mencapai apa yang sebenarnya kita harapkan — butuh fokus dan perbaikan serta pengembangan dari segala aspek — butuh kesinambungan dari tahun ke tahun. Bila hari ini, pergelaran F8 meriahnya masih hanya mencakup di sekitaran tempat pelaksanaannya saja, Losari sana, boleh jadi, nantinya, di setiap tahun, di setiap lorong-lorong.. Masyarakat akan berbenah dengan sendirinya, menyadari ada yang spesial di tahun ini. Kita akan dilirik dunia lagi. Ayo tampilkan apa yang bisa kita tampilkan. Mengapa ? Tidak lain, karena pergelaran ini semakin dikenal di luar sana, juga, semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat. Kuncinya, kesinambungan.

Bila hari ini, terdengar kabar, bahwa pelaksanaan F8 2019, yang kita tahu bahwa pergelaran ini sudah masuk dalam Kalender Wisata Nasional batal digelar, tentunya amat sangat disayangkan. Demi alasan apapun, ada jejak-jejak pencapaian yang tak berkesinambungan. Kemunduran ? Tentu saja. Bila selama ini bisa digelar, kok sekarang gak bisa? Namun, tentunya sebagai masyarakat kita harus mendengar juga secara bijak penjelasan dari pihak terkait soal ini. Bagaimana pertimbangannya, kenapa bisa seperti ini.

Tapi, sekiranya inilah sebuah jawaban di balik teriakan “Tungguma” dari lorong Amirullah sana. Menggema beberapa waktu lalu, terdengar hingga ke setiap lorong-lorong yang ada di Makassar, warga bersorak, “Kutungguki”. Ini tentang sebuah visi dari seorang Visioner bersambut harapan dan juga kerinduan.

Assalamu Alaikum Wrwb.
Salama’ tapada salama’.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

News Feed