MAKASSAR, – Jelang perhelatan Pilgub Sulsel di November mendatang, berbagai isu panas terus bermunculan mulai dari isu kotak kosong yang diduga didesain untuk menjegal munculnya kontestan lain dengan cara memborong partai politik hanya pada satu paslon.
Demikian pula pernyataan panglima relawan Dozer yang mengatakan siap menghabur dana Rp50 miliar, bahkan mengatakan dana tersebut kecil serta mau “meratakan Sulsel” untuk kemenangan ASS-Fatma. Juga manuver jubir Ramli Rahim yang mengatakan PPP telah mendukung ASS-Fatma, bahkan telah melihat sendiri rekomendasi B1 KWK hingga isu oligarki yang berada di belakang kubu ASS-Fatma.
Sederet isu tersebut menjadi sorotan pakar komunikasi politik dari Unhas, Hasrullah, yang juga menulis buku “Dendam Konflik Poso, diterbitkan Gramedia. Hasrullah mengatakan munculnya isu tersebut bukan tanpa sebab, namun merupakan fenomena “Teori Spiral Kebisuan” yang direfleksikan oleh publik lewat berbagai informasi yang ada di tataran opini publik.
“Tak ada asap tanpa ada api, dan bau yang menyebar memang sangat gampang tercium,” ujarnya, Senin (19/8/2024).
Namun dia berharap, kedaulatan masyarakat Sulsel harus tetap terjaga. Karena walaupun direkayasa sedemikian rupa, kalau rakyat Sulsel memiliki harga diri untuk tidak menggadaikan idealisme dan integritasnya, apa pun yang didesain akan buyar dengan sendirinya.
Hasrullah juga Pembicara dan Narasumber TV Nasional, menyoroti jejak rekam yang ditinggalkan pemimpin saat menjabat Gubernur Sulsel, yang tersimpan rapih dan tak dapat dihapus, baik keberhasilan dan “utang” yang ditinggalkan.
“Pemimpin yang besar semisal Gubernur Amiruddin, mempunyai gagasan besar bahkan inovasinya ditiru oleh Propinsi lain, semisal Provinsi Bali meniru konsep Pak Amir berupa perwilayahan komiditas terobosan dan gagasan dalam pengembangan hotikultura yang cemerlang bisa menjadi legacy yang membanggakan,” sambungnya.
Bahkan Gubernur sebelumnya Andi Oddang, terkenal dengan gagasan lokal wisdom “LAPPO ASSE” telah melegenda dalam mengantar Sulsel lumbung padi di masanya.
Adapun soal infrastruktur yang diklaim pemerintah yang lalu, padahal hal itu memang telah menjadi bagian dari tugas Pemprov Sulsel yang sudah masuk dalam RPMJ bersama DPRD Sulsel.
“Lagi pula ini kan hanya meneruskan program yang digagas Nurdin Abdullah. Jadi tidak ada yang luar biasa,” katanya.
Justru, lanjut Hasrullah, penulis buku “Pertarungan Elite dalam Bingkai Media”, yang harus menjadi titik tekan dalam mengevaluasi kinerja selama memimpin Sulsel, Pemimpin Sulsel yang tangguh harus siap menerima kritik dan evaluasi yang konstruktif.
“Jangan malah banyak membuat gaduh di internal Pemprov. Semisal pemecatan mantan Sekda Pak Hayat, tapi telah dipulihkan nama baiknya melalui jalur, dan dinyatakan tak bersalah.
“Mutasi dan demosi jabatan yang sama sekali tak mengindahkan tata kelola pemerintahan yang baik berdasar meritrokasi, kapabilitas maupun profesional. Yang ada hanya persoalan like and dislike,” ujarnya.
Karena itu, dia berharap, pemimpin yang berani dan gentleman juga mau mengakui kegagalannya dan berjanji untuk memperbaiki bila diberi amanah kembali pada saat memenangkan kontestasi. Semestinya, narasi seperti itu yang perlu dimunculkan dan dinarasikan ke publik, agar pemimpin tersebut perlu mendengar jeritan kegagalan untuk diperbaiki.
“Bukan malah tampil seakan-akan pemerintahaanya yang lalu sangat sempurna,” katanya.
Dia juga menghimbau agar kalangan masyarakat Madani dan organisasi non pemerintah, kampus, organisasi masyarakat sipil di Sulsel berani menggelar uji publik dan menghadirkan para paslon ini untuk diajak berdialog terkait apa yang akan dilakukan seandainya terpilih. “Mau dimana kemana 5 tahun Sulsel ke depan”
“Seorang pemimpin harus berani berdialog langsung dengan publik. Jangan bersembunyi dan seakan-akan takut dengan dialog. Pemimpin itu besar karena gagasanya bukan karena mampu memborong partai, dan menjauhi para pendekar kebenaran ( baca:jurnalis) untuk menerima kritikan pedas. Anggap kritik adalah pil pahit yang ada diotak dan hati nurani untuk mengobati pikiran yang benar menurut “penguasa”. Kunci berdialog dengan orang yg selalu memperjuangkan kebenaran Rakyat. pungkasnya. (*)










Leave a Reply